Sabtu, 19 Desember 2009

kisah sang anak manusia

seorang anak manusia datang
tiba-tiba dan mencoba bersandar
dan ia berkisah
kisahkan hatinya yang tinggal serpihan
dan ia mencoba bertahan
menahan air matanya
yang telah di pelupuk mata
hampir menggenang

dan aku coba merasanya
tak tega... sungguh tak tega
ku sandarkan ia pada pundak
dan ia pun berkisah
dan ku mendengarnya
'bersabarlah, kawan.'

ia dulu penuh tawa
ia dulu penuh cinta
ia dulu penuh bahagia
bersama sang pujaan
ia terbang

dan kini dia jatuh
dari langit surga cinta
dan dia jatuh
kesekiannya
dia telah hancur
dan tinggal sesal
benar-benar tak mau
lagi dan lagi merasakan cinta

dia ditinggalkan sang kunang
di tengah kelamnya dunia
tak tahu arah
ia berjalan
jatuh dan terjebak
tersandung kerikil dan tenggelam
malang...
dialah sang anak manusia
yang sendiri menghinakan dirinya

dan kemudianpun ia bertanya
'mengapa aku sebodoh ini?'
dan akupun membalas
'tiada satu manusiapun paling hebat,
tiada satu manusiapun paling kuat,
tiada satu manusiapun paling sempurna,
dan kau tak layak bodohkan diri,
karena kau sama dengan anak manusia lain,
sampai kau pun sama dengan einstein,'
'yang bodoh bukanlah kau, kawan,'
'bukan...'
'tapi nafsu dan hasrat...'
tanpa di dampingi hati dan akal,
karena hati yang akan rasakan ketulusan,
karena akal yang akan menjaga cinta,
dan nafsu yang buat kau hanya lihat keindahan semata,
dan hasrat yang buat kau hanya ingin bercinta,'

kini kau benar-benar menangis
dan masih bersandar di pundak ini

kau merasa sendiri
sendiri tanpa rasa cinta dari sang dewi
karena kau merasa teramat perih
hingga merembeslah air matamu ini

kau tekuk lututmu dan memeluknya
bak menahan tajamnya dingin dunia
kau mengadahkan wajahmu
menatap apa yang berlalu
dan sesenggukmu itu
memiriskan aku
ku ingin memelukmu
tak tega kau tersedu
namun tak mungkin aku mampu
'kuatkan hatimu, kawan.'

jujur... ku ingin hapus air matamu itu
dan mendekap dan menepuk lembut bahumu
dan tersenyum dan ku katakan,
'ada aku di sini, kawan,'
'aku kan berbagi candaku,'
'janganlah menangis tuk kesekian,'
'aku tak kuat merasakan pedihmu,'
'aku di sini... aku di sini...'

dan kau pun menatapku...
dengan mata penuh pilu...
kau pun mengatakan padaku...
'aku beruntung mengenalmu, kawan,'
'terima kasih.'

dan anak manusia itu akhirnya tersenyum

1 komentar: